
JAMBI — Keanekaragaman serangga dinilai memiliki peran strategis dalam mengukur kesehatan ekosistem sekaligus mendukung upaya pelestarian lingkungan. Melalui karakteristiknya yang sangat peka terhadap perubahan kondisi alam, serangga dapat menjadi bioindikator yang membantu memetakan kualitas tanah, hutan, air, hingga udara.
Isu tersebut mengemuka dalam Webinar Seri ke-125 yang diselenggarakan Pusat Penelitian Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Rabu (15/7/2026), bertajuk “Riset Keanekaragaman Serangga sebagai Indikator Kesehatan Ekosistem dan Ketahanan Lingkungan”.
Webinar menghadirkan dosen Zoologi Universitas Samudra, Herlina Putri Endah Sari, sebagai narasumber, dengan Bayu Kurniawan bertindak sebagai moderator. Kegiatan diikuti akademisi, peneliti, dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, di antaranya Universitas Tarakan, Universitas Lambung Mangkurat, UIN Semarang, IAIN Kendari, Universitas Pattimura, Universitas Samudra, UIN Sumatra Utara, serta Universitas Khairun Maluku.

Dalam paparannya, Herlina menjelaskan bahwa serangga merupakan kelompok organisme yang sangat layak digunakan sebagai bioindikator karena memiliki sensitivitas tinggi terhadap perubahan lingkungan, penyebaran yang luas, relatif mudah diidentifikasi, serta mudah dilakukan pengambilan sampelnya.
“Ketika terjadi gangguan pada ekosistem, populasi serangga akan memberikan respons lebih cepat dibandingkan banyak kelompok organisme lainnya,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, perubahan iklim, fragmentasi habitat, deforestasi, urbanisasi, dan pencemaran menjadi ancaman utama terhadap keseimbangan ekosistem saat ini. Sebagai kelompok hewan dengan tingkat keanekaragaman tertinggi, siklus hidup relatif pendek, dan spesialisasi habitat yang kuat, serangga mampu merekam perubahan lingkungan secara cepat sehingga menjadi sumber informasi penting bagi para peneliti.
Herlina mencontohkan kelompok Collembola yang banyak dimanfaatkan sebagai indikator kualitas tanah. Selain itu, berbagai kelompok serangga lainnya dapat digunakan untuk menilai kondisi kesehatan hutan, kualitas perairan, hingga tingkat pencemaran udara.
Meski demikian, pengembangan riset serangga di Indonesia masih menghadapi sejumlah kendala. Menurut Herlina, masih banyak wilayah yang belum pernah disurvei secara komprehensif, terbatasnya jumlah ahli taksonomi, kompleksitas identifikasi spesies, minimnya referensi lokal, serta belum berjalannya sistem pemantauan jangka panjang secara berkelanjutan.
Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi tantangan sekaligus peluang bagi perguruan tinggi untuk memperkuat penelitian biodiversitas sebagai dasar penyusunan kebijakan konservasi berbasis data ilmiah.
Melalui penyelenggaraan Webinar Seri ke-125 ini, LPPM UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi berharap riset mengenai keanekaragaman serangga semakin berkembang dan menghasilkan basis data yang dapat dimanfaatkan dalam perumusan kebijakan konservasi, pengelolaan lingkungan, serta strategi mitigasi perubahan iklim di berbagai daerah. (NLL)